ITB Muhammadiyah Sarolangun menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum dengan tema “Kepemimpinan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA)” dengan menghadirkan Prof. Dr. Ma’mun Murod, S.Sos., M.Si. sebagai narasumber.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan sivitas akademika untuk memperluas wawasan mengenai kepemimpinan perguruan tinggi, khususnya dalam menghadapi dinamika dan tantangan pengelolaan PTMA di era perubahan yang semakin cepat.
Prof. Dr. Ma’mun Murod, S.Sos., M.Si. merupakan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dalam rekam jejaknya di lingkungan Muhammadiyah dan pendidikan tinggi, beliau juga dipercaya sebagai Ketua Umum Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (FR-PTMA) periode 2025–2028.
Kepemimpinan PTMA Tidak Hanya Berorientasi pada Manajemen
Dalam kuliah umum tersebut, kepemimpinan di lingkungan PTMA dipandang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga menyangkut keteladanan, integritas, kemampuan membangun kepercayaan, serta komitmen terhadap nilai-nilai Muhammadiyah.
Kepemimpinan perguruan tinggi membutuhkan kemampuan untuk menggerakkan seluruh sumber daya institusi agar mampu mencapai tujuan secara efektif sekaligus menjaga karakter dan identitas perguruan tinggi Muhammadiyah.
Pemimpin PTMA dituntut mampu membangun budaya akademik yang sehat, mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan dosen dan tenaga kependidikan berkembang secara optimal.
Pemimpin Harus Mampu Memengaruhi, Bukan Memaksa
Salah satu gagasan kepemimpinan yang sering disampaikan Prof. Ma’mun adalah bahwa pemimpin harus mampu memengaruhi, bukan memaksa. Gagasan tersebut juga tercermin dalam profil publik beliau yang menekankan bahwa seorang pemimpin seharusnya mampu memberikan pengaruh melalui keteladanan dan kapasitas kepemimpinannya.
Dalam konteks PTMA, kemampuan memengaruhi tersebut menjadi penting karena perguruan tinggi merupakan organisasi akademik yang terdiri atas berbagai latar belakang, kompetensi, dan kepentingan.
Karena itu, pemimpin perlu membangun komunikasi yang baik, menciptakan rasa memiliki terhadap institusi, serta mengembangkan budaya kerja yang berorientasi pada pencapaian tujuan bersama.
Kepemimpinan Berbasis Nilai Muhammadiyah

Kepemimpinan di PTMA juga tidak dapat dilepaskan dari identitas Muhammadiyah. Perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki mandat untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi sekaligus mengembangkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Kepemimpinan yang berkemajuan diharapkan mampu memadukan profesionalisme pengelolaan perguruan tinggi dengan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, kebangsaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks tersebut, seorang pemimpin tidak hanya dituntut mencapai indikator kinerja institusi, tetapi juga mampu menjaga marwah dan identitas PTMA sebagai bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.
Menjawab Tantangan Perguruan Tinggi di Era Perubahan
Perubahan lingkungan pendidikan tinggi menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Transformasi digital, peningkatan mutu akademik, tuntutan akreditasi, pengembangan sumber daya manusia, persaingan antarperguruan tinggi, serta kebutuhan dunia kerja menjadi tantangan yang harus dihadapi secara strategis.
Karena itu, pemimpin PTMA perlu memiliki visi yang jelas, kemampuan mengambil keputusan, keberanian melakukan inovasi, serta kemampuan membangun jejaring dan kolaborasi.
Prof. Ma’mun juga dikenal mendorong agar perguruan tinggi memiliki peran yang lebih luas dalam pembangunan bangsa dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam kepemimpinannya di Forum Rektor PTMA, ia menekankan pentingnya peran strategis kampus dalam transformasi bangsa.
Menumbuhkan Kepemimpinan Kolektif
Kuliah umum ini juga menjadi pengingat bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh seorang pimpinan. Diperlukan kepemimpinan kolektif yang melibatkan seluruh unsur perguruan tinggi.
Rektor, wakil rektor, ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh sivitas akademika memiliki peran dalam membangun budaya mutu dan kemajuan institusi.
Dengan kepemimpinan yang kolaboratif, setiap unsur perguruan tinggi dapat berkontribusi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
Mendorong Kemajuan ITB Muhammadiyah Sarolangun
Bagi ITB Muhammadiyah Sarolangun, kegiatan kuliah umum ini diharapkan menjadi sumber inspirasi dan penguatan kapasitas kepemimpinan bagi seluruh sivitas akademika.
Wawasan yang diperoleh dari kegiatan ini diharapkan dapat diimplementasikan dalam penguatan tata kelola perguruan tinggi, peningkatan mutu akademik, pengembangan sumber daya manusia, penguatan budaya mutu, serta pengembangan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Melalui kepemimpinan yang visioner, kolaboratif, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah, ITB Muhammadiyah Sarolangun diharapkan terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang unggul, berkemajuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kuliah umum ini bukan sekadar forum untuk mendapatkan pengetahuan tentang kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa kemajuan perguruan tinggi merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika.
